“SOSOK
DI BALIK BUKU”
Cerpen: Ajeng
Puspaningtyas
Seperti biasa, aku selalu berangkat
kuliah dua jam lebih awal dari jam kuliah yang ditentukan. Lalu aku akan menuju
ke tempat itu. Tempat yang membuatku ingin terus mendatanginya, tempat aku
dapat bertemu dengannya. Perpustakaan kampus.
Di lantai dasar memang tak banyak
tempat duduk untuk membaca, ruangan itu penuh dengan rak-rak buku yang sebagian
besar terdiri dari cerita fiksi dan biografi tokoh. Sebagian lagi dipenuhi oleh
komputer pencarian dan tempat para staf melayani pengunjung yang akan meminjam
buku.
Aku menemukan tempat membaca yang
nyaman di lantai atas. Di sana ada rak-rak buku seperti di lantai dasar, tapi
di lantai atas lebih banyak menyediakan tempat agar para pengunjung lebih
leluasa membaca. Memang lebih nyaman di lantai atas, tak terlalu ramai
pengunjung. Di lantai atas kebanyakan berisi buku-buku ilmu pengetahuan dan
budaya. Skripsi dan kamus juga ada di lantai atas. Terdapat toilet di pojokan
ruang lantai atas. Bagian paling belakang ada ruang multimedia. Di sana tempat
ternyaman dari semuanya, kita bisa browsing
di sana, komputer yang berjajar rapi telah diberi sambungan internet oleh pihak
kampus. Di ruang multimedia itulah banyak terdapat kursi untuk membaca.
Ada dua yang menjadi favoritku. Yang
pertama, aku suka rak buku lantai dasar, terutama bagian novel. Tak ada alasan
lain. Ya, karna aku lebih suka baca novel daripada buku-buku yang lain. Yang
kedua, aku suka ruang multimedia lantai atas. Alasannya karena di ruang
multimedia, aku dapat melihatnya, memandangnya secara diam-diam dibalik buku
yang ku pegang, aku suka.
Hari ini pun aku kembali bertemu
dengannya, di tempat yang sama, di pojokan ruang multimedia, di tempat yang aku
suka. Nyaman rasanya memandanginya, walaupun hanya dalam diam.
“Hey! Sedang apa kau di sini? Betah
sekali rupanya kau ini berlama-lama menatap buku...”
tiba-tiba saja temanku Nesya muncul mengagetkanku yang sedang memandanginya di
balik buku yang tadi kuambil asal-asalan.
“Kau ini mengagetkanku saja... aku hanya
sedang tak ada kegiatan, jadi aku pikir melihat-lihat buku boleh juga.” Jawabku sambil
tertawa.
“Ternyata kau rajin juga ya, tempat
mainnya di perpustakaan hahahahaha” aku hanya tersenyum saja mendengarnya.
Tidak tahu saja dia apa tujuan utama aku berada di sini.
Hari ini dia memakai kaos hijau muda
bergambar mickey mouse dengan jeans belelnya. Tetap terlihat cuek seperti
biasanya. Tetap terlihat mempesona dalam pandanganku. Tetap serasi dengan
rambut cepaknya, hidung mancung dan apalagi dengan kulit putihnya. Semakin
membuat wajahnya cerah. Dia sedang membaca entah buku apa aku tak dapat melihat
judul bukunya, sampul buku tertutup oleh tangannya. Dengan menyenderkan
punggungnya di kursi, sebentar-sebentar dia tersenyum sendiri, memasang muka tegang, dan kadang
manggut-manggut terlalu larut oleh cerita dalam buku sepertinya. Itu sebenarnya
memudahkanku untuk menatapnya. Aku tak perlu takut ketahuan karena dia tengah
serius dengan bukunya.
Kebiasaan memandanginya itu selalu aku
lakukan selama 4 semester. Bisa dibilang memandangnya adalah suatu energi yang
membuatku menjadi lebih bersemangat untuk berangkat kuliah. Dengan itu juga
hariku kebelakang menjadi menyenangkan dengan sendirinya. Apa pun yang terjadi
hari itu, semangatku akan kembali bangkit ketika aku bisa melihatnya. Selama 4
semester pula aku akhirnya mengetahui nama cowok itu. ketika itu aku sengaja
ada di belakangnya saat antri meminjam buku, jadi aku bisa melihat nama cowok
itu lewat kartu perpustakaannya yang aku intip dari balik bahu tegap itu. Dan
sekarang aku bisa menuliskan namanya di buku harianku. Tegar Mahesa.
Kemudian hari itu pun datang. Aku
datang ke perpustakaan seperti biasanya, menuju rak novel dan mengambil novel
Tere Liye yang belum selesai aku baca seminggu ini, dan langsung menuju ruang
multimedia untuk kembali melihatnya. Namun aku salah. Saat aku sampai di ruang
multimedia, aku tak menemukannya. Sudah aku cari sampai pojok ruangan, tapi
tetap tak ada. Hari-hari ke depan pun selalu seperti itu. Dia menghilang. Aku
tak tahu harus mencarinya kemana lagi. selama ini aku memang hanya melihatnya
di ruang multimedia perpustakaan kampus. Aku tak pernah melihatnya di tempat
lain. Dari dulu, dia selalu menghabiskan waktunya di ruang multimedia itu.
Sejak hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi.
Aku tak senantiasa berhenti mengunjungi
perpustakaan. Aku tetap datang ke perpustakaan dan masuk ruang multimedia. aku
membaca novel dan kadang memandangi tempat yang dulu selalu dia pakai untuk
duduk dan membaca. Aku senang mengenangnya. Aku juga tak melupakannya, hanya
saja banyak yang sudah aku lupa tentang dia karena sudah tak pernah melihatnya
lagi sampai pada akhirnya aku diwisuda dan meninggalkan kampus. Sedih rasanya
akan jarang mengunjungi tempat kenanganku dengan tegar.
Setelah lulus kuliah, aku tak langsung
mendapat pekerjaan. Namun aku ingin sekali bekerja di kota tempatku kuliah
dengan bekerja di sebuah penerbitan seperti cita-citaku sewaktu kuliah. Jadi
untuk sementara waktu, aku menghabiskan waktuku mencari lowongan pekerjaan dan
mendatangi perpustakaan kampus. Alasannya simpel, aku belum ada pekerjaan jadi
masih punya banyak waktu untuk membaca novel dan kembali mengingat kenanganku
memandangi Tegar dari jauh. Mengunjungi perpustakaan kampus biasanya aku
lakukan setiap akhir pekan. Biasanya hari jumat dan sabtu. Pegawai perpustakaan
sampai hafal denganku. Mereka juga jadi tahu keinginanku bekerja di sebuah
penerbitan karena aku sering menceritakannya kepada mereka.
Hari ini jumat siang pukul 13.00 aku
berada di ruang multimedia perpustakaan membaca novel favoritku belakangan ini.
Ketika aku sedang hanyut membaca, ada yang memanggil namaku,
“Syifa, maaf ganggu sebentar ya...” pak
Sukris, pegawai perpustakaan datang bersama seorang pria. Sepertinya aku pernah
melihat pria yang bersama pak Sukris, tapi siapa ya? Aku masih mengingat-ingat.
“Iya pak, santai saja. Ada apa ya?”
tanyaku kepada pak Sukris.
“Kenalkan, ini mas Tegar. Katanya kamu
ingin sekali bekerja di penerbitan. Kebetulan sekali ternyata mas Tegar adalah
pemilik sebuah penerbitan. Tidak ada salahnya kalian berkenalan. Aku sudah
menceritakan semua keinginanmu yang sangat mendalam untuk bekerja di penerbitan
hahahahaha” kata pak Sukris yang membuatku terkejut mendengar nama pria
tersebut.
“Halo syifa, saya tegar. Senang bertemu
anda” Tegar memperkenalkan diri.
“Hai mas...” jawabku canggung dan
gemetaran.
“Panggil Tegar saja biar lebih akrab...”
“Oh, iya... Tegar”
“Aku sudah dengar semuanya dari pak
Sukris. Wah, senangnya bisa bertemu teman yang menyukai bidang yang sama dengan
saya” kata Tegar sambil tertawa kecil.
“Saya yang seharusnya senang Tegar. Bisa
bertemu orang yang sudah bisa mendirikan penerbitan. Bidang yang selama ini
saya impikan...” kataku menggebu-gebu.
“Bisa saja kamu ini... baiklah kalau
begitu, saya rasa kita bisa bekerja sama. Besok ada waktu? Kita bisa
membicarakan ini di kantor saya, bagaimana?” Jawab tegar
sambil tertawa.
“Serius? Sangat bisa sekali... saya akan
selalu siap untuk yang satu ini” jawabku dengan mata berbinar.
“Kalau begitu, untuk waktu dan tempatnya
bisa kita bicarakan lewat telepon? Boleh minta nomer telepon yang bisa
dihubungi?”
“Bisa sekali Tegar...” kataku sambil
menyodorkan kartu namaku kepadanya.
Benar, itu Tegar Mahesa yang dulu
selalu aku pandangi di balik buku. Hanya saja Tegar yang sekarang agak sedikit
berbeda, dia lebih rapi dan lebih matang, tapi tetap mempesonaku.. Setelah
pertemuan pertama kami, akhirnya kami menjadi teman kerja. Dia menjadi manager
di penerbitannya dan aku menjadi penyuntingnya. Sebuah kemajuan setelah sekian
lama aku hanya bisa memandanginya diam-diam. Paling tidak sekarang aku tidak
harus diam-diam untuk memandangnya. Sekarang aku sudah bisa dengan leluasa
memandanginya. Aku memang ingin hubungan ini menjadi lebih dekat, namun tidak
memaksakannya juga. Biarlah hubungan ini berjalan dengan semestinya. Aku yakin,
bahwa jodoh pasti bertemu dan tak akan kemana.
Comments
Post a Comment