Sekolah kehidupan. aku hidup dalam keluarga yang damai. damaaai sekali. bahkan aku tak pernah tahu apa yang sedang dihadapi bapak ibuku. mereka tak pernah mau menceritakannya pada kami, anak-anaknya. sepertinya dari sikap mereka pada anak-anaknya ada dampak positif pun dampak negatifnya juga ada. rasa-rasanya aku, adek dan masku tak pernah merasakan susahnya hidup, kerasnya hidup maupun kejamnya hidup jika di rumah. orang tua kami beruisaha sekali tak tampak sedih, tak tampak luka... mereka terlihat sempurna di mataku, akan selalu sempurna...
Dengan tak terbiasanya aku dengan hidup susah, aku merasakan hal yang jauuuuuuuuuuuh berbeda di kota ini. di kota rantauku. Yogyakarta. semua berbalik. tak ada yang bisa ku andalkan selain diriku sendiri di sini. tak ada yang rela mendekap panasnya tubuh sakitku yang selalu ibu lakukan untukku. aku hanya bisa mendekap tubuh panasku ini, sendiri.
Aku tak menyesali kehidupanku yang sekarang. hanya saja, aku menyesal tak selalu menghargai pengorbanan orang tuaku. manja sekali aku. berubah sekarang belum terlambat, bukan?
aku berterima kasih kepada kehidupanku sekarang, dengan semua masalah yang harus aku hadapi sendiri sekarang, dengan merangkak pun, aku bersyukur. dengan begitu, aku menjadi tahu susahnya orang tua saat anak-anaknya minta makan enak sedangkan uang tak ada, saat anaknya minta jajan tapi uang pas-pasan, saat anaknya minta mainan tapi gaji belum cair, semuanya... mana pernah tahu kalian, mana pernah peduli, mereka bela-belain utang ke tetangga buat beliin hp canggih kalian? bahkan kalian takkan pernah mau tahu. mereka hanya tak pernah ingin melihat anaknya sedih, mereka fikir, dengan dibelikan hp canggih kita akan lebih rajin belajar, tapi nyatanya? sama saja. malah akan semakin malas dengan semua kecanggihan hp, mungkin saja.
Ibuk pernah bilang ke aku, "untung dulu kamu gak jadi kuliah di semarang ya... liat tuh tetangga-tetangga kita yang kuliah di semarang, tiap minggu pulang pake motor bolak balik pekalongan-semarang... jalanan kan rame, kalo kamu aman, pulang dianter travel... ibuk jadi lega... " tahu gak poin yang aku ambil dari perkataan ibukku? betapa beliau sangat mengkhawatirkanku. orang yang mengkhawatirkanmu adalah orang yang sangat menyayangimu, mereka yang tak menyayangimu tak peduli dengan semua yang terjadi padamu.
kemarin aku demam, tiba-tiba ibuk nelpon, terus aku bilang aja kalo aku demam, terus ibuk bilang, "makanya, kalo pergi bawa jaket, kamu kan punya jaket? sekarang memang lagi musim sakit. udah periksa? periksalah, uang juga ada kan? minum obat, makan. istirahat yang cukup, ati-ati ya di sana... ". obat termujarabku adalah kekhawatiran ibukku akan aku. melegakan sekali mendengar orang yang kita sayangi mengkhawatirkan kita. itu bukti bahwa sayang kita berbalas.
Lagi, sampai sekarang, aku masih saja Homyblues. hahaha suka nangis kalo abis pulang kampung. butuh minimal 3 hari buat berenti nangis di kamar kos. liburan semester kemarin, 1 bulan penuh aku ada di rumah. nyaman as always. pulang ke yogya sambil meler selama 5 hari. gak mau keluar kamar, padahal di dalem kamar juga cuma nangis. hahaha. cengeng. terus, kakak sepupuku yang jadi temen mainku kalo pas pulang kampung telpon, seneeeeeeeng banget. eh dia ngomong gini, "ibukmu tadi ke rumahku jeng, ngomongin kamu. sekarang katanya rumah sepi gara-gara kamu udah balik jogja, bapakmu katanya bilang, biasanya jam segini ditemenin ajeng, sekarang udah gak lagi, gitu...". melegakan, bukan? bukankah itu perkataan orang yang rindu? perkataan seorang bapak yang sangat merindukan anaknya. dalam hal ini rindu bapak kepada anak perempuannya. rindu bapak kepadaku. miss you more, pak :')
Maafkan aku buk, pak yang selalu datang hanya saat butuh butuh uang, maafkan aku yang hanya datang saat aku sedang sedih, maafkan aku yang tak pernah membagi kebahagiaanku, maafkan anakmu... mungkin suatu saat nanti, walau hanya sedikit, aku bisa membanggakan kalian, Insya Allah...
Comments
Post a Comment