aku ingin setiap hariku selalu seperti hari ini. aku tak ingin muluk-muluk, hanya saja, berbagi itu indah. terima kasih Tuhan untuk hari ini. maaf jika aku selalu lupa untuk bersyukur. dan terlalu sering mengeluh. kata orang, bertemanlah dengan mereka yang baik. dan kurasa, aku mendapatkannya.
dia memang tak terlalu suka dengan cara berpakaianku yang menurutnya masih 'urakan'. "mbok ya pake kerudungnya di doble ta Jeng, rambutmu tuh masih keliatan...", "itu loh Jeng lenganmu tu kurang panajng... ", "bajumu turunin dikit biar nutupin bokong, kamu mau semua orang liat bokong kamu?", "kamu tuh udah gede, jadi udah dibicarain orang, jaga sikap Jeng".
entah, aku tak pernah tersinggung dengan semua kata-katanya. aku senang. aku bersyukur masih ada yang peduli dengan semua tingkah lakuku. hanya saja, untuk berubah seperti apa yang dia nasehatkan kepadaku, aku belum bisa. tapi sedang berusaha :D
perlahan-lahan, dia jadi sudah sering terbuka denganku. cerita yang selama ini tersimpan. dipercaya adalah hal yang ingin sekali aku punya. kau tahu? seperti tak ada orang lain yang bisa kau percaya kecuali kau. aku sungguh menikmati rasa dipercaya itu.
sebenarnya, dia tak jauh berbeda denganku. sama-sama ceroboh. pelupa. teledor. dia keluar kos tanpa membawa kunci kosan. alhasil, ada sekitar dua jam aku dan dia berada di depan teras kos dia. ditemani para tukang yang genit lagi benerin jalan. ujan pula. aku sih santai. abis kuliah korea, aku capek. asik main game, ditemani dia yang cerita ini itu. dosen ini tuh enak, yang ini agak gimana, yang itu gimana bla bla bla. aku sih emang dasarnya doyan cerita, aku timpalin aja sama pendapat-pendapatku. udah asik, baru deh dua jam kemudian, mbak-mbak yang jaga kosan keluar denger suara kami dari luar. ternyata mbaknya ketiduran gak denger bel bunyi.
udah gitu kami balik ke kampus, ada urusan penting. penting banget sampe bikin pusing satu semester. *Tuhaaaan aku menderita semester ini*. setelah urusan penting itu kelar, dia nemenin aku ke mushola. pas selesai solat, di luar masih ujan. baju basah pula. kami tetep tinggal di mushola. lagi ada kajian juga. jadi terlihatnya aku seperti sedang mengikuti kajian agama gitu. soleha. ehem. kami ngobrol ngalor ngidul. sampai pada sesi berikut.
x: "kamu kayaknya suka ya sama mas ini?"
y: "hehehe iyaa *malu-malu*. kok kamu bisa nebak gitu?"
x: "nebak aja sih..."
y: "ya gimana lagi abisnya masnya bla bla bla bla bla..". *panjang lebar cerita* *emang dasarnya cerewet*
x: "gak papa sih Jeng. wajar kok kagum sama seseorang. aku juga gitu..."
( si y sebenarnya kaget. hah? seorang x kagum sama cowooooook? *okay, lebay. too much. alah*)
y: *tetep cerita tentang si masnya hahahaha)
x: "masnya pinter kok Jeng. aku pernah beberapa kali ngobrol tuh jelasinnya enak. waktu itu bla bla bla bla bla" *ceritain banyak juga*
(si y prengas prenges)
x: "kalau kagum tuh harus sama orang yang pinter Jeng... kalo aku gak mau kagum sama yang gak pinter..."
y: " hooh Fir, kan buat jadi imam kita impiannya, masak gak pinter :p"
x: "iya Jeng. tapi jangan berlebihan yaaa :B"
y: "aku lebay yaa hehehe"
x: "biar kalo bertepuk sebelah tangan gak sakit..."
y: "iya e, sakit banget Fir *malah curhat*. aku udah pernah dan itu beeeeeeh sakitnyo.
x: "aku juga pernah dan bla bla bla bla bla" (cerita masa lalu dia. gak nyangka :p)
y: "ooh. ooh. ohh". *nanggepin cerita si x*
x: "ya jadiin kekagumanmu sebagai motivasimu Jeng"
y: "iya, makin semangat kuliah Fir kalo liat masnya"
x: "semangat belajarmu meningkat gak?"
y: "gak juga sih. cuma jadi semangat buat berangkat kuliah aja :p"
x: "wuw.."
(si y prengas prenges again)
x: "kalo aku Jeng, selalu berdoa, Ya Allah, jika dia memang baik, berikanlah aku yang lebih baik, amin."
y: "yah, berarti ntar ganti lagi donk orangnya?"
x: "ya gak kali Jeng. kan 'berikan'. itu artinya memiliki. paham?"
y: "owalaah. paham. bener juga ya. berarti minta yang lebih baik dari yang sudah baik yaa. pinter kamu Fir :D"
x: "aku jg pernah Jeng cerita sm temen aku kayak kamu. terus kata temen aku, sejatinya idola yang sesungguhnya adalah Nabi Muhammad".
y: *mikir keras sebenernya* *mikir lagi* *mikir* *tobat*
sayangnya, karena banyak orang, obrolan kami terpotong. dan tak berlanjut.
setiap aku sama dia, selalu saja ada kajian rohani. dan itu tak buruk. sama sekali tak buruk. dia lebih muda, tapi dia lebih dewasa pula. dia selalu nenangin aku kalau aku lagi heboh dengan kejutan-kejutan urusan penting di semester lima ini. tenang Jeng tenang. dia selalu begitu. hanya hal kecil, tapi tak selalu aku dapatkan dari yang lain.
dia yang selalu jadi kakak. aku tak pernah jadi kakak. dengan siapa pun. dengan sifat manjaku. maafkan aku. dia yang selalu memecahkan masalah kami, dan aku hanya heboh. hal hal kecil yang dia lakukan membuatku merasa telah menjadi teman. ketika dia cerita di atas secarik kertas saat sedang kuliah, dia tulis "aku lagi seneng", aku "kenapa?", dia "tadi AAI anak-anak pada cerita pengalamannya. terus jadi pada terbuka. dan banyak ngobrolin islam. aku seneng :D". aku ikut seneng Fir. seandainya aku bisa ngelanjutin percakapan itu, aku mau bilang, "aku seneng Fir kamu mau cerita sama aku... aku seneng kamu udah mau jadi temenku. walaupun aku heboh, aku seneng kamu masih percaya aku. aku seneng denger cerita kalo kamu lagi seneng..."
dia suka sekali gelendat gelendot. aku biarin aja. hanya itu wujud kakak dalam diriku. membiarkannya gelendotan di pundakku. aku bukan munafik. hanya saja aku senang ketika mereka meminjam pundakku untuk tempat mereka bersandar. aku hanya merasa "kau temanku. kau kepercayaanku" ada dalam diriku seketika itu. jika saja pundakku bisa ku tulisi 'hunian'. aku ingin menjadi hunian setiap teman-temanku, rasa nyaman untuk teman-temanku. bukan apa-apa, karena mungkin hanya itu yang bisa aku berikan. aku tak punya yang lain. hunian dan rasa nyaman.terima kasih Tuhan untuk si teman ini. Terima kasih Fir selalu membicarakan yang baik :')
dia memang tak terlalu suka dengan cara berpakaianku yang menurutnya masih 'urakan'. "mbok ya pake kerudungnya di doble ta Jeng, rambutmu tuh masih keliatan...", "itu loh Jeng lenganmu tu kurang panajng... ", "bajumu turunin dikit biar nutupin bokong, kamu mau semua orang liat bokong kamu?", "kamu tuh udah gede, jadi udah dibicarain orang, jaga sikap Jeng".
entah, aku tak pernah tersinggung dengan semua kata-katanya. aku senang. aku bersyukur masih ada yang peduli dengan semua tingkah lakuku. hanya saja, untuk berubah seperti apa yang dia nasehatkan kepadaku, aku belum bisa. tapi sedang berusaha :D
perlahan-lahan, dia jadi sudah sering terbuka denganku. cerita yang selama ini tersimpan. dipercaya adalah hal yang ingin sekali aku punya. kau tahu? seperti tak ada orang lain yang bisa kau percaya kecuali kau. aku sungguh menikmati rasa dipercaya itu.
sebenarnya, dia tak jauh berbeda denganku. sama-sama ceroboh. pelupa. teledor. dia keluar kos tanpa membawa kunci kosan. alhasil, ada sekitar dua jam aku dan dia berada di depan teras kos dia. ditemani para tukang yang genit lagi benerin jalan. ujan pula. aku sih santai. abis kuliah korea, aku capek. asik main game, ditemani dia yang cerita ini itu. dosen ini tuh enak, yang ini agak gimana, yang itu gimana bla bla bla. aku sih emang dasarnya doyan cerita, aku timpalin aja sama pendapat-pendapatku. udah asik, baru deh dua jam kemudian, mbak-mbak yang jaga kosan keluar denger suara kami dari luar. ternyata mbaknya ketiduran gak denger bel bunyi.
udah gitu kami balik ke kampus, ada urusan penting. penting banget sampe bikin pusing satu semester. *Tuhaaaan aku menderita semester ini*. setelah urusan penting itu kelar, dia nemenin aku ke mushola. pas selesai solat, di luar masih ujan. baju basah pula. kami tetep tinggal di mushola. lagi ada kajian juga. jadi terlihatnya aku seperti sedang mengikuti kajian agama gitu. soleha. ehem. kami ngobrol ngalor ngidul. sampai pada sesi berikut.
x: "kamu kayaknya suka ya sama mas ini?"
y: "hehehe iyaa *malu-malu*. kok kamu bisa nebak gitu?"
x: "nebak aja sih..."
y: "ya gimana lagi abisnya masnya bla bla bla bla bla..". *panjang lebar cerita* *emang dasarnya cerewet*
x: "gak papa sih Jeng. wajar kok kagum sama seseorang. aku juga gitu..."
( si y sebenarnya kaget. hah? seorang x kagum sama cowooooook? *okay, lebay. too much. alah*)
y: *tetep cerita tentang si masnya hahahaha)
x: "masnya pinter kok Jeng. aku pernah beberapa kali ngobrol tuh jelasinnya enak. waktu itu bla bla bla bla bla" *ceritain banyak juga*
(si y prengas prenges)
x: "kalau kagum tuh harus sama orang yang pinter Jeng... kalo aku gak mau kagum sama yang gak pinter..."
y: " hooh Fir, kan buat jadi imam kita impiannya, masak gak pinter :p"
x: "iya Jeng. tapi jangan berlebihan yaaa :B"
y: "aku lebay yaa hehehe"
x: "biar kalo bertepuk sebelah tangan gak sakit..."
y: "iya e, sakit banget Fir *malah curhat*. aku udah pernah dan itu beeeeeeh sakitnyo.
x: "aku juga pernah dan bla bla bla bla bla" (cerita masa lalu dia. gak nyangka :p)
y: "ooh. ooh. ohh". *nanggepin cerita si x*
x: "ya jadiin kekagumanmu sebagai motivasimu Jeng"
y: "iya, makin semangat kuliah Fir kalo liat masnya"
x: "semangat belajarmu meningkat gak?"
y: "gak juga sih. cuma jadi semangat buat berangkat kuliah aja :p"
x: "wuw.."
(si y prengas prenges again)
x: "kalo aku Jeng, selalu berdoa, Ya Allah, jika dia memang baik, berikanlah aku yang lebih baik, amin."
y: "yah, berarti ntar ganti lagi donk orangnya?"
x: "ya gak kali Jeng. kan 'berikan'. itu artinya memiliki. paham?"
y: "owalaah. paham. bener juga ya. berarti minta yang lebih baik dari yang sudah baik yaa. pinter kamu Fir :D"
x: "aku jg pernah Jeng cerita sm temen aku kayak kamu. terus kata temen aku, sejatinya idola yang sesungguhnya adalah Nabi Muhammad".
y: *mikir keras sebenernya* *mikir lagi* *mikir* *tobat*
sayangnya, karena banyak orang, obrolan kami terpotong. dan tak berlanjut.
setiap aku sama dia, selalu saja ada kajian rohani. dan itu tak buruk. sama sekali tak buruk. dia lebih muda, tapi dia lebih dewasa pula. dia selalu nenangin aku kalau aku lagi heboh dengan kejutan-kejutan urusan penting di semester lima ini. tenang Jeng tenang. dia selalu begitu. hanya hal kecil, tapi tak selalu aku dapatkan dari yang lain.
dia yang selalu jadi kakak. aku tak pernah jadi kakak. dengan siapa pun. dengan sifat manjaku. maafkan aku. dia yang selalu memecahkan masalah kami, dan aku hanya heboh. hal hal kecil yang dia lakukan membuatku merasa telah menjadi teman. ketika dia cerita di atas secarik kertas saat sedang kuliah, dia tulis "aku lagi seneng", aku "kenapa?", dia "tadi AAI anak-anak pada cerita pengalamannya. terus jadi pada terbuka. dan banyak ngobrolin islam. aku seneng :D". aku ikut seneng Fir. seandainya aku bisa ngelanjutin percakapan itu, aku mau bilang, "aku seneng Fir kamu mau cerita sama aku... aku seneng kamu udah mau jadi temenku. walaupun aku heboh, aku seneng kamu masih percaya aku. aku seneng denger cerita kalo kamu lagi seneng..."
dia suka sekali gelendat gelendot. aku biarin aja. hanya itu wujud kakak dalam diriku. membiarkannya gelendotan di pundakku. aku bukan munafik. hanya saja aku senang ketika mereka meminjam pundakku untuk tempat mereka bersandar. aku hanya merasa "kau temanku. kau kepercayaanku" ada dalam diriku seketika itu. jika saja pundakku bisa ku tulisi 'hunian'. aku ingin menjadi hunian setiap teman-temanku, rasa nyaman untuk teman-temanku. bukan apa-apa, karena mungkin hanya itu yang bisa aku berikan. aku tak punya yang lain. hunian dan rasa nyaman.terima kasih Tuhan untuk si teman ini. Terima kasih Fir selalu membicarakan yang baik :')
Comments
Post a Comment